Kamis, 03 Juni 2021

Keutamaan Alat Perlindungan Diri (APD) untuk Tenaga Kesehatan COVID-19


Pandemi COVID-19 sekarang sudah mengakibatkan lebih dari 2 juta kasus dan beberapa ratus ribu orang wafat, terhitung beberapa tenaga medis (nakes) yang luruh. Salah satunya pemicu kenapa banyak nakes yang luruh saat bekerja ialah minimnya suplai alat perlindungan diri (APD) yang ada.

Sepatu Safety proyek Terbaik bisa menjadi acuan untuk kamu sebelum membeli sepatu.

Keadaan ini cukup memprihatinkan ingat banyak rumah sakit yang memberikan laporan kekurangan perlengkapan ini saat tangani pandemi COVID-19. Ini keterangan sekitar alat perlindungan diri di dalam rumah sakit dan kenapa jadi penting untuk petugas klinis.


Keutamaan alat perlindungan diri (APD) untuk tenaga medis

dokter menantang COVID-19


Jumlah kasus COVID-19 semakin meningkat di penjuru dunia, terhitung di Indonesia. Angka kasus ini pasti tidak sesuai dengan jumlah tenaga medis dan APD yang ada di dalam rumah sakit.


Mengakibatkan, cukup banyak petugas klinis yang luruh saat tangani pasien COVID-19. Dimulai dari dokter, perawat, sampai karyawan pencuci ruang.


Salah satunya specialist emergency di IGD RSUD Daha Husada Kediri, dr. Tri Maharani, mengutarakan jika sekarang ini beberapa tenaga kesehatan sedang berperang dengan senjata yang tidak komplet. Telah ada beberapa puluh dokter yang wafat di periode wabah COVID-19 dan beberapa ratus yang lain positif terkena COVID-19.


Kenali Tipe Infeksi Pada Badan Anda!

Kenali lebih dalam tipe infeksi yang serang badan dengan ikuti newsletter mingguan kami.


Keadaan ini bukan hanya terjadi di wilayah yang mempunyai banyaknya pasien yang banyak, khususnya DKI Jakarta. Wilayah yang lain seperti Jawa Barat dan Jawa tengah juga alami keadaan yang sama.


Pada akhirnya, kekurangan alat perlindungan ini memaksakan mereka untuk ‘melindungi' diri dengan perlengkapan seadanya.


Berdasar laporan dari beberapa media, cukup banyak dokter, perawat, dan tenaga medis yang lain usaha jaga diri mereka dari virus dengan jas hujan sekali saja pakai. Jas hujan yang dipasarkan di pasar pasti tidak sesuai dengan APD yang penuhi standard.


Bagaimana tidak, arah dari alat perlindungan untuk membuat perlindungan beberapa tenaga medis dari recikan infeksi COVID-19. Bahkan juga, pemakaian APD tidak jamin mereka terbebas dari paparan virus.


Pemikiran mengenai resiko tinggi terserang infeksi virus COVID-19 karena kekurangan APD terus menghantui mereka. Tetapi, hal itu tidak hentikan beberapa tenaga medis untuk selalu bekerja dan tangani pasien COVID-19, lepas dari pelindung diri yang tidak optimal. Sepatu safety wajib di miliki untuk mereka yang bekerja di area berbahaya.


Apakah itu alat perlindungan diri (APD)?

Dikutip dari WHO, alat perlindungan diri atau WHO sebagai perlengkapan yang dipakai untuk menahan dan mengatur infeksi. Perlengkapan ini umumnya terdiri atar baju yang digunakan oleh tenaga medis untuk kurangi resiko penyebaran. Dimulai dari sarung tangan, perlindungan muka, sampai gaun sekali saja pakai.


Jika tenaga medis sedang tangani penyakit dengan penyebaran yang tinggi, seperti COVID-19, alat perlindungan diri akan ditambahkan. Dimulai dari perlindungan muka, kacamata, kedok, sarung tangan, pakaian perlindungan, sampai sepatu bot karet.


Peranan dari APD yang dipakai di dalam rumah sakit ialah menghadangimenghalangi masuknya zat partikel bebas, cair atau udara. Disamping itu, APD dipakai membuat perlindungan penggunanya dari penebaran infeksi dan dalam kasus ini ialah virus SARS-CoV-2.


Tipe APD di dalam rumah sakit

Pengatasan COVID-19 memang berlainan dengan penyakit infeksi menyebar yang lain, hingga alat perlindungan diri benar-benar diperlukan di dalam rumah sakit. Ini mempunyai tujuan membuat perlindungan beberapa tenaga medis dari infeksi virus yang melakukan kontak langsung dengan pasien.


Berikut ada banyak tipe APD berdasar Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, yakni:


1. Masker

Salah satunya elemen APD yang terpenting dalam tangani COVID-19 ialah masker. Beberapa tenaga medis yang menjaga pasien yang terkena pasti tidak bisa memakai sembarangan masker.


Berikut ada tipe masker yang dipakai membuat perlindungan nakes saat tangani pasien sesuai perannya, yakni:


a. Masker bedah

Masker bedah ialah sisi APD standard yang mempunyai tiga susunan membuat perlindungan pemakainya dari droplet atau darah. Biasanya, masker ini tidak dipakai untuk tangani pasien COVID-19 langsung. Pemakaian masker bedah umumnya cuman dipakai dalam tingkat pertama dan ke-2 , yakni saat tenaga medis ada pada tempat praktek umum dan ada di laboratorium.


b. Respirator N95

Berlainan dengan masker bedah, masker dengan tingkat filtrasi sampai 95% ini biasa digunakan untuk menjaga pasien COVID-19 langsung. Ini karena tipe masker yang ini lebih ketat, hingga dipakai dalam alat perlindungan diri tingkat ke-3 .


Tingkat ke-3 ialah keadaan pengatasan pasien yang telah terverifikasi terkena COVID-19. Karenanya, respirator N95 dibutuhkan saat tingkat resiko pengatasan sangat tinggi.


2. Perlindungan mata (googles)

Selainnya masker, sisi lain dari alat perlindungan diri ialah perlindungan mata alias googles. Perlengkapan ini direncanakan supaya mata dan tempat sekelilingnya terbebas dari droplet pasien suspek atau positif COVID-19.


Biasanya, pemakaian perlindungan mata dipakai saat pengatasan COVID-19 telah masuk di tingkat ke-3 , alias langsung menjaga pasien yang telah diverifikasi terkena virus.


3. Perlindungan muka (face shield)

Meskipun seorang tenaga medis telah menggunakan masker dan perlindungan mata, rupanya alat perlindungan diri mereka masih kurang bila tidak ada perlindungan muka atau face shield.


Oleh karena itu, perlindungan muka seringkali diketemukan pada dokter atau perawat yang tangani pasien positif COVID-19.


4. Sarung tangan

Satu alat perlindungan diri yang juga sangat penting dari masker dan perlindungan yang lain ialah sarung tangan. Pemakaian sarung tangan berperan untuk kurangi resiko contact langsung dengan permukaan atau benda yang tercemar virus. Tetapi, tidak seluruhnya sarung tangan bisa dipakai kesemua keadaan.


Berikut ada dua tipe sarung tangan yang dibutuhkan oleh tenaga medis saat tangani pasien COVID-19.


sarung tangan pengecekan: alat perlindungan tingkat pertama dan ke-2 yang dipakai saat mengecek pasien yang belum terverifikasi dan proses klinis enteng yang lain

sarung tangan bedah: digunakan oleh tenaga medis saat lakukan proses klinis sedang sampai berat, seperti operasi bedah dan pengatasan langsung pasien COVID-19


5. Perlindungan badan

Sesudah mengenal alat perlindungan diri yang dipakai dari mata sampai tangan, ada APD yang diutamakan membuat perlindungan badan beberapa pemakainya. Ke-3 alat perlindungan badan ini mempunyai satu kemiripan, yakni warna jelas supaya lebih gampang mengetahui kontaminan yang melekat.


Berikut beberapa perlindungan badan yang terhitung dalam standard APD pengatasan COVID-19, yakni:


gaun sekali saja pakai: alat perlindungan tingkat pertama dan ke-2 membuat perlindungan sisi depan, lengan, dan 1/2 kaki pemakainya dari cairan darah atau droplet supaya tidak merembes ke badan.

coverall klinis: alat perlindungan tingkat ke-3 untuk tutupi badan keseluruhannya. Dimulai dari kepala, punggung, sampai mata kaki hingga semakin aman.

heavy duty apron: digunakan membuat perlindungan badan sisi depan tenaga medis dan memiliki sifat tahan terhadap air.


6. Sepatu boot anti air

Sepatu boot anti air juga jadi sisi dari APD yang cukup penting karena bisa membuat perlindungan kaki pemakainya dari droplet yang kemungkinan melekat di lantai. Sepatu ini umumnya dipakai dalam tingkat pengatasan ke-3 ingat resiko infeksi yang lebih besari saat bertemu langsung dengan pasien positif COVID-19.


Selainnya sepatu boot anti air, alat perlindungan kaki yang lain ialah penutup sepatu yang dibuat untuk jaga sepatu beberapa tenaga medis dari recikan air infeksi virus. Penutup ini kerap dipakai saat nakes ada di ruangan diskusi atau laboratorium non-pernapasan.


Related Articles

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.